31 May 2016

[Sinopsis] Perfect Sense [Korean Drama] [part 1]


Jung Ahyeon
Seorang tuna netra. Dia kehilangan penglihatannya sejak umur 2 tahun. Saat ini dia bekerja sebagai Guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di Seoul.



Park Eunso
Siswi SMA yang baru saja pindah ke Seoul dan bersekolah di SMA yang sama tempat Ahyeon mengajar.

***


Dua pekan. Itu adalah batas waktu yang diberikan Pelatih Do kepada Ahyeon untuknya bersama Solyi sebelum Solyi diadopsi oleh orang lain. Selama ini Solyi sudah menemani Ahyeon kemanapun.

***


Shushu, anjing peliharaan Eunso, mati. Saat menguburkan abunya, Eun so mengatakan bahwa dia tidak bisa melihat Shusu. Awalnya ibunya mengira Eunso sedih karena tidak bisa lagi melihat Shusu. Dia menghibur Eunso bahwa sekarang Shusu sudah menemani ayahnya di surge. Tapi ketika Eunso kembali menngatakan hal yang sama, ibunya mulai khawatir.


Dia lalu membawa Eunso ke dokter mata. Setelah diperiksa, dokter memberitahu ibu Eunso bahwa Eunso menderita penyakit Retinitis pigmentose, penyakit yang sama yang diderita ayahnya. Penyakit ini tak ada obatnya. Ada yang penglihatannya bertahan hingga tua, tapi ada juga yang kehialangan penglihatannya saat masih muda. Dan pada Eunso, penyakit tersebut menyebar dengan cepat.

Dokter menguatkan ibu Eunso dan menasehatinya agar bersikap hati-hati agar tidak berakhir seperti almarhum suaminya.

***


Jung Ahyeon sedang piket di gerbang sekolah. Walau dia tidak bisa melihat, tapi dia bisa mengetahui dan mengenali nama siswa yang melakukan pelanggaran yang lewat di depannya. Salah seorang siswa mencoba berbohong, tapi Ahyeon memarahinya karena melakukan itu. Dia pun meminta maaf.
Guru Gong mendekati Ahyeon. Dan memuji kemampuan mendengar Ahyeon yang sangat hebat. Saat berbicara, Ahyeon mencium bau dan menegurnya. Guru Gong sedikit salah tingkah lalu memuji kemampuan penciuman Ahyeon yang hebat itu.


Guru Gong bercerita bahwa semalam dia kumpul dengan teman kuliah. Dia lalu bertanya kenapa Ahyeon tidak ikut. Ahyeon menjawab bahwa dia pergi bermain skating. Mendengar itu, guru Gong Langsung menyerang Ahyeon dengan pertanyaan. Dengan siapa? Siapa orang yang pergi bersamanya. Kenapa dia tidak mengajaknya? Ahyeon menghentikan pertanyaannya dengan menjawab singkat bahwa dia pergi dengan Solyi. Guru Gong membalas bahwa harusnya Ahyeon mengajaknya. Dia lebih baik dalam menjaga daripada seekor anjing.

Ahyeon langsung menyuruhnya menutup gerbang karena waktunya sudah lewat. Guru Gong langsung mengiyakan (lucu guru yang satu ini heheh)


Siswa terakhir melewati gerbang. Dia Eunso. Darinya Ahyeon mendengar suara lonceng. Ahyeon langsung bertanya suara lonceng apa yang tadi dia dengar. Eunso menjawab bahwa itu adalah lonceng anjingnya.

“Kau punya anjing? Siapa namanya?”
“Shushu.”
“Nama yang cantik. Aku juga punya anjing. Solyi, ayo sapa Eunso?” Solyi langsung mendekati Eunso. …. Terkejut karena tidak biasanya dia langsung sedekat itu dengan orang asing. “Dia pasti menyukaimu,” ucapnya.


Melihat Solyi, Eunso jadi sedih. Tidak ingin orang lain melihatnya menangis, dia segera pamit.

Ahyeon bertanya kepada Guru Gong tentang Eunso karena ini pertama kalinya dia mendengar suaranya. Guru Gong menjawab bahwa dia adalah murih pindahan.

***


Di dalam kelas, sekelompok siswa sedang mengamati Eunso. Mereka bergosip tentang anak baru itu, tentunya bukan tentang hal yang baik. Salah seorang dari mereka lalu mendekati Eunso yang sedang menggambar seekor anjing. Shushu. Dia mulai memprovokasi Eunso, mulai dari menyebutkan tentang ayahnya, gayanya yang kampungan, dan puncaknya dia merebut gambar Shushu. Dia mengejek Eunso karena selalu membawa lonceng anjing seperti yang ada di gambar. Eunso menyuruhnya mengembalikan gambarnya tapi dia menolak.


Dan terjadilah perkelahian.


Siswa segera melapor kepada Ahyeon yang sedang berjalan menuju kelas.


Ahyeon mencoba melerainya. Tapi dia malah terjatuh karena dorongan mereka. Untungnya guru Gong segera datang. Dia lebih dulu menanyakan keadaan Ahyeon lalu melerai mereka berdua.


Eunso dihukum di ruang guru. Dia harus membuat surat pengakuan salah dan permintaan maaf. Tapi yang dia lakukan hanya menggambar Shushu.
Ibunya datang dan meminta maag kepada guru Gong. Dia memohon agar Guru Gong memahami keadaan Eunso. Menurutnya Eunso masih belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Ahyeon masuk bersama Solyi. Saat berada di dalam ruang guru, Solyi langsung menghampiri Eunso. Ahyeon hanya mengikutinya tanpa mengetahui apa yang sedang Solyi lakukan.



Melihatnya, Guru Gong lalu memperkenalkan Ahyeon pada ibu Eunso yang kembali meminta maaf atas nama Eunso. Sementara itu Eunso mengusap-usap Solyi. Ahyeon yang menyadari hal itu berkata bahwa sepertinya Solyi menyukai EUnso.

Ibu Eunso melihat sesuatu yang berbeda dari Ahyeon. Dia lalu berbisik kepada Guru Gong. “Dia tidak bisa melihat?” Ahyeon yang pendengarannya sangat tajam mendengernya dan sambil tersenyum membenarkan pertanyaan Ibu Eunso.

***


Di lapangan sekolah, Eunso bermain bersama Solyi sementara Ibu Eunso berbicara bersama Ahyeon.

Ibu Eunso bercerita tentang ayah Eunso yang meninggal 3 tahun lalu. Dia adalah seorang pembuat keramik tapi karena penglihatannya kurang baik, dia kecelakaan dan meninggal.

Setelah didiagnosa menderita Retinitis pigmentose, ibu dan ayah Eunso sering bertengkar. Dan ketika penyakitnya semakin parah, ayah Eunso semakin terobsesi membuat keramik.

Setelah meninggal, kondisi keuangan keluarga Eunso memburuk. Karena itu ibu Eunso menjual studio keramik milik suaminya. Eunso yang akhirnya tahu tentang itu, berkeras tidak ingin pindah.

Ayah Eunso juga pecinta binatang. Dialah yang membelikan Shushu untuk Eunso dan itu menjadi hadiah terakhirnya darinya untuk Eunso. Shushu lah satu-satunya teman Eunso. Sayangnya, dia juga pergi meninggalkan Eunso.

Ibu Eunso mengira bahwa denga pindah ke Seoul, kehidupannya akan lebih mudah. Tapi sepertinya dia salah.

“Eunso pasti sangat mirip dengan ayahnya,” ucap Ahyeon.
“Dia mewarisi sesuatu dari ayahnya yangs seharusnya tidak dia dapatkan,” jawab ibu Eunso, tanpa semangat.
“Maksudnya?” Tanya Ahyeon gagal paham.

Ibu Eunso pun memberitahu Ahyeon bahwa Eunso mewarisi penyakit ayahnya.


“Guru Jung, aku tahu kalau ini berlebihan. Tapi mulai besok, aku harus mencari kerja. Bisakah kau menolongku menjaga Eunso? Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri tanpa seorangpun yang menemaninya. Bisakah kau membantuku?”

***


Ahyeon mengajak Guru Gong makan pizza. Kebayang dong senangnya dia. tapi ternyata yang Ahyeon ajak bukan cuma dia, tetapi juga Pelatih Do. (Panass bo’ hahah)

Ahyeon memperkenalkan guru Gong kepada pelatih Do. Gong Shiho dan Do Sang joon. Keadaan semakin memanas ketika Eunso muncul.


Ternyata Ahyeon meminta mereka berkumpul untuk membantu Eunso. Dia berharap mereka bisa membantu Eunso bersiap sebelum penglihatannya benar-benar hilang.

“Eunso, Guru Gong ini sudah menyukaiku sejak masih kuliah,” Ahyeon mulai bercerita. Guru Gong protes tapi Ahyeon tidak berhenti. Dia meraba wajah Guru Gong dan membuat Guru Gong besar kepala. “Tapi dia ini jelek. Dan bukan tipeku.”

Pelatih Do menahan tawanya sementara Eunso menahan senyumnya.

“Tapi karena dia sudah mengawasiku selama bertahun-tahun, dia tahu apa yang orang seperti diriku butuhkan. Dan Pelatih Do,” Pelatih Do langsung menghentikan tawanya dan duduk tegak, “Dia terlihat seperti orang jahat tapi sebenanrnya dia orang yang lembut yang tidak bisa menolak apapun. Dia adalah pelatih anjing yang akan mengajarimu bergaul bersama anjing seperti Solyi.”

“Aku tidak punya waktu,” tolak Pelatih Do.

“Dua minggu saja. Setelah itu, aku akan melepas Solyi. Aku harap kau mau membantu.” Pelatih Do hanya bisa menghela nafas. “Dan aku bisa mengajarimu huruf Braille.”


Eunso menolak semuanya. Menurutnya dia tidak butuh semua itu. Ahyeon lalu meraba wajah Eunso dan berkata kalau dia mengucapkannya dengan ekspresi wajah seperti orang sekarat. Dia menasehati Eunso agar tidak perlu memaksakan dirinya terlihat kuat. Sekali-kali jatuh tidak apa. Itu akan membuat Eunso lebih lega. Lagipula, beberapa hari terakhir, sepertinya Eunso sangat memperhatikan Solyi.

“Tapi kenapa kalian jadi pendiam begitu?” Tanya Ahyeon tiba-tiba kepada Guru Gong dan Pelatih Do.

Guru Gong langsung memuji Ahyeon bahwa bukan hanya indera Ahyeon yang hebat, tapi kemampuannya berkata-kata juga hebat.

***


Setelah makan, kembali Guru Go dan Pelatih Do berdebat siapa yang akan mengantar Ahyeon dan siapa yang akan mengantar Eunso. Tapi Eunso langsung menjawab bahwa dia ingin pulang sendiri dengan berjalan kaki.

***


Guru Gong memberikan kopi kepada Ahyeon yang sedang memikirikan Eunso. Guru Gong lalu bercerita saat mereka pertama bertemu sewaktu kontes menyanyi. Waktu itu, dia sangat gugup tapi Ahyeon sama sekali tidak. Waktu ditanya, Ahyeon hanya menjawab, “karena di hadapanku tidak ada siapa-siapa. Kalau kau takut di atas panggung, lihat aku saja. Aku hanya akan akan melihatmu dengan telinga, hidung dan tanganku. Tapi sebagai gantinya, kau harus membingbingku naik ke atas panggung.”

“Saat itu, kukira kaulah yang akan bergantung padaku. Tapi ternyata kita saling bergantung satu sama lain,” ucap Guru Song.
Dia meyakinkan Ahyeon yang masih terlihat khawatir bahwa Eunso akan baik-baik saja selama mereka ada di sisinya.

***


Saat berjalan pulang, penglihatan Eunso menjadi kabur. Dia berhent sesaat dan tidak lama ayahnya muncul dan menemaninya berjalan. Dia berhalusinasi.

Sambil jalan, ayahnya menasehatinya agar tidak bersikap seperti dirinya saat sakit. Hanya bisa minum-minum dan bertengkar dengan ibunya. Kalau Eunso juga begitu, bagaimana dengan ibunya? “Kalau matamu tidak bisa melihat, gunakan tanganmu. Lagipula, sesuatu yang sangat berharga itu tidak terlihat oleh mata.”

***


Hari pertama untuk mengajari Eunso dimulai.

Ahyeon khawatir karena sudah lewat jam 1 tapi Eunso belum datang. Guru Gong membujuk Ahyeon untuk pergi makan karena sepertinya Eunso tidak akan datang. Untungnya, tidak lama kemudian, Eunso muncul.

“Saat seseorang menolongmu seperti ini, berdirilah setengah langkah di belakangnya dan berpegangan pada lengannya seperti ini,” Ahyeon memberikan contoh sambil memegang tangan Guru Gong. Guru Gong lalu menggenggam tangan Ahyeon.
“Jangan coba-coba ambil kesempatan,” Ahyeon member peringatan.
“Kapan aku pernah melakukannya?” elak Guru Gong.
“Fokus pada pelajaran.” Guru Gong dan Eunso tersenyum.

***


Di hari berikutnya Eunso berlatih bersama pelatih Do. Dia berjalan dengan menutup matanya dipandu Solyi. Saat akan memberi makan sosis kepada Solyi, pelatih Do melarangnya. Katanya anjing hanya boleh makan makanan anjing. Jika tidak, itu akan membahayakan kesehatan anjing.

***


Hari berikutnya lagi, Eunso belajar huruf Braille bersama Ahyeon.

***


Di kelas, Eunso kembali menggambar anjing di bukunya tapi kini bukan hanya Shushu. Eunso mulai menggambar anjing lain. Solyi.

***


Ahyeon dan Eunso serta Solyi sedang bersama. Berada di tepi sungai, Eunso menutup matanya sementara Ahyeon menyentuh air sungai yang dingin. Tiba-tiba Eunso bertanya kapan Ahyeon merasa sangat sedih.

“Entahlah. Mungkin saat aku sangat ingin melihat wajah Shushu yang kau gambar?” jawabnya. Keduanya tersenyum.

Ahyeon dan Eunso kembali berjalan. Ahyeon bercerita bahwa saat berjalan bersama Solyi, dia sering bertanya kepada Solyi tentang laut tampaknya seperti apa, tentang jalan yang mereka lewati, tentang pemiliki warung. Walau terkadang Ahyeon merasa sedih karena tidak bisa melihat itu semua, tapi dia baik-baik saja. Ahyeon lalu menghela nafas dan berkata bahwa waktu melepaskan Solyi sudah semakin dekat.

***


Pelatih Do memperkenalkan anjing baru kepada Ahyeon. Namanya Saebyol. Dia meminta Ahyeon untuk berlatih dengannya. Tapi itu tidak mudah. Saebyol tidak berjalan di jalan yang seharusnya. Dia malah berlari dan menarik Ahyeon bersamanya. Untung saja Ahyeon tidak jatuh.


Selesai dengan Saebyol, Pelatih Do memasang GPS di leher Solyi. Itu adalah program baru yang dibuat. Dia meminta Ahyeon agar berhat-hati. Terlebih ini ada hari-hari terakhir Solyi bersamanya. Ahyeon terlihat murung.

***


Ahyeon tiba di halaman rumahnya. Dia lalu berbaring di atas dipan dan memandanga langit. Dia bertanya kepada Solyi apa di langit ada bintang. Solyi langsung mendongak.

Ahyeon mengusap kepala Solyi dan berkata bahwa hanya tinggal beberapa hari mereka bisa melihat bintang bersama seperti ini. Dia berterima kasih kepada Solyi karena sudah menemaninya selama ini. Air mata menggenang di matanya. Solyi kemudian menjilati tangan Ahyeon dan membuatnya tersenyum.

***


Eunso dalam perjalanan pulang. Kembali dia menggosok matanya. Dan tiba-tiba di depannya dia mendengar suara ribut-ribut.
Dia melihat seorang siswa sedang bertengkar dengan ayahnya yang sedang mabuk. Dia mengatakan ayahnya memalukan. Itu membuat ayahnya marah. Ibunya berusaha membawanya masuk ke dalam rumah. Siswa itu pergi meninggalkan ayah dan ibunya. Saat itu dia melihat Eunso yang sedang memalingkan wajahnya. Siswa itu adalah teman sekelas yang pernah merebut gambar Shushu dari Eunso (Tau deh namanya siapa. Cuma bisa lihat marganya Lee)

***


Eunso membawakan obat untuknya sebagai permintaan maaf waktu mereka bertengkar kemarin. Si Lee juga memberikan gambar Shushu yang kemarin sobek. Dia sudah melekatkanya kembali dengan isolasi. Dia memberitahu Eunso abhwa dia tanpa sengaja mendengar tentang penyakit Eunso. Dia meminta maaf karena hari itu dia mengejeknya.

Saat akan pergi, Lee memberitahu Eunso bahwa ayahnya tidak biasanya seperti itu. Eunso menenangkannya dengan mengakatakan bahwa dia tidak akan mengatakan kepada teman-teman di kelasnya tentang apa yang tadi dia lihat.

***


Eunseo tiba di rumahnya. Saat hendak merebahkan diri di tempat tidurnya dia melihat tanggal di atas mejanya dan menyadari sesuatu. Dia segera berlari menemui ibunya di ruang makan.

“Eomma, apa kau tahu kalau kita melewatkan hari kematian ayah?” ibunya hanya menjawab singkat.
“Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Ibu sangat sibuk jadi tidak sempat ke sana,” jawab ibunya sambil membereskan surat-surat yang ada di atas meja. Dia terlihat tidak peduli.
“Eomma!”
“Kau juga lupak kan? Jadi kenapa meributkannya? Lagipula ada banyak hal yang harus Eomma pikirkan termasuk biaya pengobatanmu. Jadi pergilah tidur.”
“Jangan banyak alasan. Eomma memang tidak peduli. Karena penyakitku, kau pasti sudah muak dan lelah mengurusku! Iya kan?”
“Kau ini bicara apa? Memangnya yang aku lakukan sekarang ini untuk siapa? Memangnya untuk siapa aku hidup seperti ini sekarang?” Eomma juga mulai meninggikan suaranya.

Eunso berlari ke kamarnya sambil menangis. Dia mengunci pintu kamarnya dan tidak memberikan kesemptan bagi Eomma-nya untuk menyelesaikan pertengkaran mereka malam itu.

***


Keesokan paginya Ahyeon menghubungi Eunseo. Dia mengajak Eunseo ke pasar bersama. Dalam perjalanan Ahyeon melewati sekumpulan anak SD yang sedang membeli balon.


Tiba-tiba Ahyeon mendengar suara anak menangis. Dia mendekatinya. Anak itu terpisah dari ibunya saat mereka di pasar. Ahyeon berniat mengantarnya untuk mencari ibunya tapi si anak takut sama anjing. Oleh karena itu, dia menitipkan Solyi pada penjual makanan yang ada di dekat situ yang kebetulan mengenalnya dan Solyi. Sedikit enggan, si ahjussi menyanggupi permintaan Solyi.


Ahyeon mengeluarkan tongkatnya dan mengajak si anak ke pasar. Beberapa pembeli mendatangi warung si ahjussi. Saat sibuk melayani pembeli, Solyi pergi mengikuti Ahyeon. Si ahjussi sebenarnya ingin melarang Solyi tapi karena saat itu seorang pelanggannya memanggilnya karena ingin memesan sesuatu, dia pun jadi tidak peduli.


Seolyi terus mengikuti Ahyeon hingga tiba di pasar. Tapi saat di pasar itulah, Solyi terpisah dari Ahyeon karena Ahyeon membelok ke kiri sementara sebuah gerobak berhenti di depan Solyi dan menghalangi pandangannya.


Tiba-tiba seorang anak lewat bersama ibunya. Dia juga membawa balon warna merah seperti yang di bawa oleh anak tadi. Solyi yang hanya melihat balon yang melayang tinggi karena pandangannya masih terhalangi gerobak, mengikutinya. Solyi terus mengikuti balon merah tadi sampai kemudian dia melihat bahwa yang membawa balon itu adalah seorang anak perempuan. Dia tahu kalau dia salah orang. Dia pun segera berbalik ke tempat tadi.


Sementara itu Ahyeon berhasil mempertemukan si anak dengan ibunya. Si anak memberikan balon yang dipegangnya kepada Ahyeon sebagai hadiah.


Saat akan pergi, Ahyeon menerima telepon dari ibu Eunseo. Ibu Eunseo memberitahukan Ahyeon bahwa sepertinya Eunseo kabur dari rumah. Saat dia pulang kerja, dia hanya menemukan catatan yang bertuliskan ‘Jangan mencariku’. Ibu Eunseo panic karena setahu dia, Eunseo tidak punya teman si Seoul. Hanya Ahyeon lah yang menemaninya selama ini. Dia juga sudah menelepon pegawai di studio keramik ayah Eunseo, tapi Eunseo juga tidak ada di sana. Ibu Eunseo khawatir terjadi sesuatu pada Eunseo. Apalagi semalam mereka bertengkar.

Ahyeon meminta ibu Eunseo ke rumahnya bersama Guru Gong tapi tiba-tiba telepon terputus.


Ahyeon pun kembali ke tempat ahjussi untuk menjemput Solyi. Tapi ahjussi malah terkejut karena Ahyeon tidak bersama Solyi. Tadi dia membiarkan Solyi pergi karena dia melihat Solyi mengikutinya dari belakang.


Ahyeon pun berbalik, berjalan sepanjang jalan memanggil nama Solyi. Dan Solyi juga berkeliling pasar mencari Ahyeon. Keduanya berjalan tanpa arah tujuan.


Ahyeon akan menyeberang jalan tapi beberapa anak berlari dan menabraknya hingga tongkatnya terlepas. Ahyeon terduduk dan balon dalam genggamannya juga lepas. Seseorang mendekatinya dan membantunya berdiri. Ahyeon lalu meminjam hp orang tersebut untuk menelepon seseorang.